Wouw …. Sudah hampir 1 abad rupanya, sungguh tak terasa kiranya …. Young Celebes, young Java, Young Sumatra … dengan seluruh pemuda seantero jagat bumi pertiwi, mengikarkan Sumpah pemuda sebagai symbol satu kesatuan bangsa. Mrinding seluruh jiwa raga ini kalau membayangkan jiwa yang coba dikobarkan oleh para pemuda pada waktu itu. Menghilangkan seluruh dikhotomi, perbedaan, meminggirkan rasa kedaerahan guna mengikatkan tali menjadi satu, satu jiwa dan satu raga … yang akhirnya bisa tercetuskan satu semangan …. Sumpah pemuda.
Adakah keuntungan materi yang didapat, boro-boro materi, non materipun sungguh tak terbersit dibenak mereka pada waktu itu. Malah mungkin cemohan, sindiran yang didapat. Malah mereka pertaruhkan jiwa dan raganya mengingat mereka merupakan musuh utama kolonial Belanda.
Sehingga tidaklah terlalu absurd kita yakini jika para Pemuda waktu itu didalam menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, berkumpul kemudian mendeklarasikan jiwa sumpah pemuda, tak sebersitpun terpikirkan untuk meminta imbal jasa atas seluruh perjuangan dan pengorbanan mereka. Semangat apa yang bisa kuberikan kepada Negara lah yang mendorong, mendobrak segala para pemuda didalam melakukan perjuangannya sampai titik darah penghabisan.
Lihat filmnya Kya Ahmad Dahlan. Bukan karena golongan Muhamadiyah goalnya melainkan semangat dan cita-cita beliaulah yang kita jadikan parameternya jika para pemuda dulu seperti itulah gambarannya, tak mengenal lelah sekalipun kegagalan demi kegagalan yang mereka gapai. Namun asa tetap menyeruak dihati untuk minta ditindaklanjuti.
Satu pikiran, satu asa. Merenda tali persatuan yang ketat erat ditautkan kedalam hati dan jiwa sanubari disetiap insan pemuda, tidak memperdulikan bahkan meminggirkan seluruh kepentingan yang bersifat kedaerahan. Difusi sedemikianlah akhirnya bangsa Indonesia bisa bebas menggapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan tali inilah yang tetap mengukukuhkan NKRI walau berbagai aral melintang dari satu pemberontakan ke pemberontakan dari satu gerakan didaerah yang ingin melepaskan diri dari NKRI tercinta.
Kini tali persatuan telah genap berusia 82 tahun atau hampir 1 abad gan lamanya.
So what ?.
Wah kalau begitu kan tentunya mau tidak mau kita lantas membandingkan dengan semangat para pemuda maupun eks pemuda pada generasi sekarang, bukan.
Bukan menggosipkan seperti acara infotaiment, yang ghibah hukumnya menurut keputusan MUI. Melakukan perbandingan akan sikap dan semangat antara para pemuda dahulu dengan pemuda sekarang. Dapatlah melahirkan sefrta diharapkan dapat menumbuh kembangkan kesadaran Dan dari itu kita lantas bisa melakukan instropeksi diri. Sudah benarkah kita selaku generasi bangsa didalam mengolah, memperlakukan bumi pertiwi yang tercinta ini. Sehingga dengan demikian kita bisa membenahi, mereorganisasi setiap tindakan dan sehingga pula diharapkan kelak dikemudian hari kita bisa memberikan, mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada anak cucu bukan mewariskan Indonesia yang porak poranda, yang terlalu absurd untuk digambarkan, baik secara ekonomi maupun secara tingkah laku serta akhlak dan moral. Dengan demikian baik selaku individu maupun selaku bangsa senantiasa kedudukan serta harkat martabat kita dihormati dimata dunia.
“Sumpah pemuda “, suatu karya yang begitu agung, begitu fenomenal yang pernah dibuat oleh para pahlawan pendahulu kita. Yang belum tentu bisa kalau tidak mau dikatakan “ tidak mampu “ dilakukan oleh generasi sekarang. Bukannya dijaga kelestariannya namun malah diabaikan. Air mata para pahlawan almarhum khususnya pencetus ide “ brilliant “ jelaslah bukan hanya tangis air mata biasa melainkan tangisan darah yang menetes deras. Satu ide “ bahasa Indonesia “, yang dijadikan satu-satunya bahasa resmi Negara Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa yang beraneka ragam bahasanya.
Sekarang dengan begitu mudahnya terpinggirkan. Lihat saja media elektronik kita. Semakin hari semakin banyak bahasa Negara lain dijadikan sebagai bahasa sajian bagi suatu acara bagi pemirsanya.
Bangsa kita bukanlah bangsa bersifat rasialisme. Dan itulah tujuannya sumpah pemuda, mempersatukan berbagai ragam suku, daerah, golongan, bahasa dan budaya. Semua dikemas dan dirangkum menjadi satu …. Bahasa Indonesia, bangsa Indonesia. Namun dengan begitu merebaknya bahasa bangsa yang dijadikan bahasa pengantar dibeberapa televisi Indonesia, jelas suatu sikap yang melukai hati para pahlawan.
Belum lagi budaya bangsa lain semenjak era Almarhum Gus Dur. Penyajian dan pertunjukan Budaya asing terasa semakin gencar dipertontonkan ke khalayak ramai. Budaya asing yang setiap tahun disuguhkan guna memperingati hari tertentu setiap tahunnya. Dan lucunya pemainnya kebanyakan bukan bangsa yang memiliki hubungan historical dari kebudayaan itu sendiri. Melainkan dilakukan oleh penduduk pribumi.
Kita memang tidak boleh dan tidak akan pernah bisa bersikap rasial. Namun tidak pada tempatnya jika kita mempertontonkan budaya, bahasa sebagai suatu bentuk yang baku, yang dipertontonkan setiap hari ataupun disetiap tahun secara terus menerus. Indonesia sangat-sangat variatif dan kaya akan budaya dan bahasa. Kenapa tidak budaya dan bahasa daerah, bukankah dengan demikian kita justru bisa mempertunjukan keaneka ragaman khasanah budaya dan bahasa ke berbagai belahan penjuru dunia. Dan justru dengan mengeksploitasi sedemikian akan menambah ketertarikan bangsa lain untuk berkunjung, sehingga arus wisatawan dunia semakin tinggi. Lihat saja Bali. Dimana dengan lugas dan tuntas, daerah itu menawarkan khasanah budayanya. Dan Bali memperoleh tegen prestasi yang luar biasa akibat semakin meningkatnya arus kunjungan wisata dari manca negara yang begitu pesat. Sehingga pendapat secara ekonomi pun semakin dapat ditinggikan pencapaiannya.
Terlebih-lebih jangan gantikan keturunan bangsa Indonesia menjadi bangsa lain penduduknya. Lihatlah Singapura, Malaysia … Penduduk asli di Negara Singapura kalau tidak salah, hanyalah 10 persen dari seluruh warga negaranya. Malaysia, penduduk masih lebih banyak yaitu sekitar 57 persen dari total warga Negara.
Bukanlah mengada-ada sifatnya, kalau kita tidak segera sadar diri. Kelak cepat atau lambat, Indonesia akan mengalami apa yang dirasa oleh bangsa asli Singapura ataupun Malaysia.
Sebab dengan tingkat keluarga berencana yang mulai dicanangkan sekitar tahun 1973. Secara prosentase kependudukan, jumlah penduduk asli mengalami penurunan. Sedangkan bangsa keturunan mengalami peningkatan yang sangat signifikat tingkat kelajuannya.
Penduduk asli Indonesia, setiap keluarga hanya mempunyai 2 anak sebagaimana anjuran Pemerintah. Bahkan ironis apabila mempunyai anak keturunan melebihi 2 untuk pegawai negeri. Maka anak yang ketiga dan seterusnya tidak berhak untuk memperoleh tunjangan sebagaimana yang didapat oleh anak yang pertama dan kedua.
Namun program Pemerintah itu seolah hanya berlaku untuk penduduk asli dan tidak berlaku untuk bangsa keturunan. Lihat saja, setiap keluarga dari bangsa keturunan. Jumlah anak yang dilahirkan bisa 9 orang atau lebih. Sedikitnya lebih dari 2 orang anak yang dilahirkan.
Suatu peledakan penduduk yang tak pernah terpikirkan namun cepat atau lambat, kelak pasti akan memberi dampak negatif bagi perkembangan bangsa Indonesia.
Kita bukannya rasial ataupun menyudutkan bangsa keturunan Indonesia. Sebab bangsa keturunan pun juga mahluk ciptaan Allah. Namun apabila kesadaran itu terlambat datangnnya, bisa saja penduduk asli terpinggirkan menjadi kaum minoritas dinegaranya sendiri. Sudah banyak contoh yang dapat kita lihat selain dua Negara diatas. Suku Amborogin menjadi penduduk minoritas demikian pula suku Indian di Amerika.
Perlulah kita mencontoh Negara Malaysia. Disisi ini, tingkat kesadaran penduduk asli maupun pemerintahannya sudah lebih tinggi sifatnya. Walaupun sudah agak terlambat menurut hemat penulis. Namun setidak-tidaknya pemerintah Malaysia sadar diri, sehingga penduduknya justru diberi kemudahan-kemudahan yang lebih apabila keluarga tersebut mempunyai anak banyak. Demikian pula tingkat kesadaran penduduknya, sehingga tidaklah mengherankan apabila disetiap rumah tangga, terdapat anak yang dilahirkan 4 atau 5 orang anak.
Dan Malaysia sendiri berusaha untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan prosentase penduduk pribuminya, sekitar 57 % dari seluruh jumlah warga negaranya. Dan tak heran apabila sampai seorang datuk Anwar Ibrahim dikatakan sebagai “ pengkhianat melayu “ gara-gara idenya yang memberikan persamaan hak bagi setiap warga Negara (maksudnya penduduk melayu dengan keturunan bukan melayu).
Kapan kita melakukan ?????. sebelum terlambat seperti Singapura atau bahkan suku Amborigin di Australia maupun suku Indian di Amerika.
Salam.
No comments:
Post a Comment