Saturday, October 16, 2010

MENYONGSONG 1 ABAD SUMPAH PEMUDA. KOBARKAN SEMANGAT SUMPAH PEMUDA DIDADAMU, KAWAN.

Wouw …. Sudah hampir 1 abad rupanya, sungguh tak terasa kiranya …. Young Celebes, young Java, Young Sumatra … dengan seluruh pemuda seantero jagat bumi pertiwi, mengikarkan Sumpah pemuda sebagai symbol satu kesatuan bangsa. Mrinding seluruh jiwa raga ini kalau membayangkan jiwa yang coba dikobarkan oleh para pemuda pada waktu itu. Menghilangkan seluruh dikhotomi, perbedaan, meminggirkan rasa kedaerahan guna mengikatkan tali menjadi satu, satu jiwa dan satu raga … yang akhirnya bisa tercetuskan satu semangan …. Sumpah pemuda.

Adakah keuntungan materi yang didapat, boro-boro materi, non materipun sungguh tak terbersit dibenak mereka pada waktu itu. Malah mungkin cemohan, sindiran yang didapat. Malah mereka pertaruhkan jiwa dan raganya mengingat mereka merupakan musuh utama kolonial Belanda.

Sehingga tidaklah terlalu absurd kita yakini jika para Pemuda waktu itu didalam menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, berkumpul kemudian mendeklarasikan jiwa sumpah pemuda, tak sebersitpun terpikirkan untuk meminta imbal jasa atas seluruh perjuangan dan pengorbanan mereka. Semangat apa yang bisa kuberikan kepada Negara lah yang mendorong, mendobrak segala para pemuda didalam melakukan perjuangannya sampai titik darah penghabisan.

Lihat filmnya Kya Ahmad Dahlan. Bukan karena golongan Muhamadiyah goalnya melainkan semangat dan cita-cita beliaulah yang kita jadikan parameternya jika para pemuda dulu seperti itulah gambarannya, tak mengenal lelah sekalipun kegagalan demi kegagalan yang mereka gapai. Namun asa tetap menyeruak dihati untuk minta ditindaklanjuti.

Satu pikiran, satu asa. Merenda tali persatuan yang ketat erat ditautkan kedalam hati dan jiwa sanubari disetiap insan pemuda, tidak memperdulikan bahkan meminggirkan seluruh kepentingan yang bersifat kedaerahan. Difusi sedemikianlah akhirnya bangsa Indonesia bisa bebas menggapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan tali inilah yang tetap mengukukuhkan NKRI walau berbagai aral melintang dari satu pemberontakan ke pemberontakan dari satu gerakan didaerah yang ingin melepaskan diri dari NKRI tercinta.

Kini tali persatuan telah genap berusia 82 tahun atau hampir 1 abad gan lamanya.

So what ?.

Wah kalau begitu kan tentunya mau tidak mau kita lantas membandingkan dengan semangat para pemuda maupun eks pemuda pada generasi sekarang, bukan.

Bukan menggosipkan seperti acara infotaiment, yang ghibah hukumnya menurut keputusan MUI. Melakukan perbandingan akan sikap dan semangat antara para pemuda dahulu dengan pemuda sekarang. Dapatlah melahirkan sefrta diharapkan dapat menumbuh kembangkan kesadaran Dan dari itu kita lantas bisa melakukan instropeksi diri. Sudah benarkah kita selaku generasi bangsa didalam mengolah, memperlakukan bumi pertiwi yang tercinta ini. Sehingga dengan demikian kita bisa membenahi, mereorganisasi setiap tindakan dan sehingga pula diharapkan kelak dikemudian hari kita bisa memberikan, mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada anak cucu bukan mewariskan Indonesia yang porak poranda, yang terlalu absurd untuk digambarkan, baik secara ekonomi maupun secara tingkah laku serta akhlak dan moral. Dengan demikian baik selaku individu maupun selaku bangsa senantiasa kedudukan serta harkat martabat kita dihormati dimata dunia.

“Sumpah pemuda “, suatu karya yang begitu agung, begitu fenomenal yang pernah dibuat oleh para pahlawan pendahulu kita. Yang belum tentu bisa kalau tidak mau dikatakan “ tidak mampu “ dilakukan oleh generasi sekarang. Bukannya dijaga kelestariannya namun malah diabaikan. Air mata para pahlawan almarhum khususnya pencetus ide “ brilliant “ jelaslah bukan hanya tangis air mata biasa melainkan tangisan darah yang menetes deras. Satu ide “ bahasa Indonesia “, yang dijadikan satu-satunya bahasa resmi Negara Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa yang beraneka ragam bahasanya.

Sekarang dengan begitu mudahnya terpinggirkan. Lihat saja media elektronik kita. Semakin hari semakin banyak bahasa Negara lain dijadikan sebagai bahasa sajian bagi suatu acara bagi pemirsanya.

Bangsa kita bukanlah bangsa bersifat rasialisme. Dan itulah tujuannya sumpah pemuda, mempersatukan berbagai ragam suku, daerah, golongan, bahasa dan budaya. Semua dikemas dan dirangkum menjadi satu …. Bahasa Indonesia, bangsa Indonesia. Namun dengan begitu merebaknya bahasa bangsa yang dijadikan bahasa pengantar dibeberapa televisi Indonesia, jelas suatu sikap yang melukai hati para pahlawan.

Belum lagi budaya bangsa lain semenjak era Almarhum Gus Dur. Penyajian dan pertunjukan Budaya asing terasa semakin gencar dipertontonkan ke khalayak ramai. Budaya asing yang setiap tahun disuguhkan guna memperingati hari tertentu setiap tahunnya. Dan lucunya pemainnya kebanyakan bukan bangsa yang memiliki hubungan historical dari kebudayaan itu sendiri. Melainkan dilakukan oleh penduduk pribumi.

Kita memang tidak boleh dan tidak akan pernah bisa bersikap rasial. Namun tidak pada tempatnya jika kita mempertontonkan budaya, bahasa sebagai suatu bentuk yang baku, yang dipertontonkan setiap hari ataupun disetiap tahun secara terus menerus. Indonesia sangat-sangat variatif dan kaya akan budaya dan bahasa. Kenapa tidak budaya dan bahasa daerah, bukankah dengan demikian kita justru bisa mempertunjukan keaneka ragaman khasanah budaya dan bahasa ke berbagai belahan penjuru dunia. Dan justru dengan mengeksploitasi sedemikian akan menambah ketertarikan bangsa lain untuk berkunjung, sehingga arus wisatawan dunia semakin tinggi. Lihat saja Bali. Dimana dengan lugas dan tuntas, daerah itu menawarkan khasanah budayanya. Dan Bali memperoleh tegen prestasi yang luar biasa akibat semakin meningkatnya arus kunjungan wisata dari manca negara yang begitu pesat. Sehingga pendapat secara ekonomi pun semakin dapat ditinggikan pencapaiannya.

Terlebih-lebih jangan gantikan keturunan bangsa Indonesia menjadi bangsa lain penduduknya. Lihatlah Singapura, Malaysia … Penduduk asli di Negara Singapura kalau tidak salah, hanyalah 10 persen dari seluruh warga negaranya. Malaysia, penduduk masih lebih banyak yaitu sekitar 57 persen dari total warga Negara.

Bukanlah mengada-ada sifatnya, kalau kita tidak segera sadar diri. Kelak cepat atau lambat, Indonesia akan mengalami apa yang dirasa oleh bangsa asli Singapura ataupun Malaysia.

Sebab dengan tingkat keluarga berencana yang mulai dicanangkan sekitar tahun 1973. Secara prosentase kependudukan, jumlah penduduk asli mengalami penurunan. Sedangkan bangsa keturunan mengalami peningkatan yang sangat signifikat tingkat kelajuannya.

Penduduk asli Indonesia, setiap keluarga hanya mempunyai 2 anak sebagaimana anjuran Pemerintah. Bahkan ironis apabila mempunyai anak keturunan melebihi 2 untuk pegawai negeri. Maka anak yang ketiga dan seterusnya tidak berhak untuk memperoleh tunjangan sebagaimana yang didapat oleh anak yang pertama dan kedua.

Namun program Pemerintah itu seolah hanya berlaku untuk penduduk asli dan tidak berlaku untuk bangsa keturunan. Lihat saja, setiap keluarga dari bangsa keturunan. Jumlah anak yang dilahirkan bisa 9 orang atau lebih. Sedikitnya lebih dari 2 orang anak yang dilahirkan.

Suatu peledakan penduduk yang tak pernah terpikirkan namun cepat atau lambat, kelak pasti akan memberi dampak negatif bagi perkembangan bangsa Indonesia.

Kita bukannya rasial ataupun menyudutkan bangsa keturunan Indonesia. Sebab bangsa keturunan pun juga mahluk ciptaan Allah. Namun apabila kesadaran itu terlambat datangnnya, bisa saja penduduk asli terpinggirkan menjadi kaum minoritas dinegaranya sendiri. Sudah banyak contoh yang dapat kita lihat selain dua Negara diatas. Suku Amborogin menjadi penduduk minoritas demikian pula suku Indian di Amerika.

Perlulah kita mencontoh Negara Malaysia. Disisi ini, tingkat kesadaran penduduk asli maupun pemerintahannya sudah lebih tinggi sifatnya. Walaupun sudah agak terlambat menurut hemat penulis. Namun setidak-tidaknya pemerintah Malaysia sadar diri, sehingga penduduknya justru diberi kemudahan-kemudahan yang lebih apabila keluarga tersebut mempunyai anak banyak. Demikian pula tingkat kesadaran penduduknya, sehingga tidaklah mengherankan apabila disetiap rumah tangga, terdapat anak yang dilahirkan 4 atau 5 orang anak.

Dan Malaysia sendiri berusaha untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan prosentase penduduk pribuminya, sekitar 57 % dari seluruh jumlah warga negaranya. Dan tak heran apabila sampai seorang datuk Anwar Ibrahim dikatakan sebagai “ pengkhianat melayu “ gara-gara idenya yang memberikan persamaan hak bagi setiap warga Negara (maksudnya penduduk melayu dengan keturunan bukan melayu).

Kapan kita melakukan ?????. sebelum terlambat seperti Singapura atau bahkan suku Amborigin di Australia maupun suku Indian di Amerika.

Salam.

Tuesday, September 28, 2010

Tuesday, January 20, 2009

T K I ku sayang, T K I ku malang.

Oleh : Danang Wahyu Widayat, SH.



TKI { Tenaga Kerja Indonesia } dianiaya ..., itu berita biasa. Diperkosa …, banyak beritanya. Membunuh dan dibunuh …, bukan perkara luar biasa. Sekalipun itu kesemua merupakan berita duka dan selalu menyesakan dada setiap kali kita mendengar, melihat, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Namun dikarenakan begitu seringnya berita itu disiarkan. Maka berita pilu tersebut lambat laun tak terasa menjadi berita yang biasa. Adalah ada berita yang luar biasa, beritaakan kelakuan para TKI { Tenaga Kerja Indonesia }, para Srikandi kita khususnya yang berada di Malaysia, dimana saat ini penulis juga sedang menetap.

Malaysia sebagai Negara jiran merupakan salah satu Negara distinasi bagi pengiriman tenaga kerja dari Indonesia. Sebagai Negara yang relative kecil luas wilayahnya, dengan jumlah penduduk kurang lebih hanya 26 juta jiwa. Pemerintah Malaysia merasa kekurangan tenaga kerja dan membutuhkan tenaga kerja dari luar negara, bukan saja dari Indonesia melainkan juga dari Negara Pakistan, Banglades, Burma dan lain sebagainya. Sehingga Malaysia yang didominasi tiga bangsa selaku warga negaranya yaitu bangsa Melayu, India dan bangsa Cina. Terasa merupakan Negara Multi nation dan Multi Culture { Beragam bangsa dan budaya }.
Hubungan antar penduduknya bersifat sangat patembayan. Tidak adanya tali silaturahmi antar tetangga. Demikian pula tidak ada aturan atau kewajiban melapor kepemuka daerah setempat dimana kita akan tinggal sebagaimana kelaziman di indonesia.
Sebegitu tingginya nilai individu dijunjung, sampai-sampai Kerajaan { sebutan untuk Pemerintah } Malaysia tidak melarang bahkan memberikan keleluasaan sepenuhnya kepada setiap perusahaan didalam mengatur dan menempatkan para pekerja yang dipekerjakannya. Adalah tidak sedikit kilang-kilang { Pabrik } di Malaysia menempatkan para pekerja khususnya dari Indonesia dalam satu apartemen, baik laki-laki mapun perempuan dicampur jadi satu dan hanya bilik tempat tidur sajalah yang memisahkan.
Dengan ditempatkannya laki-laki dan perempuan pekerja Indonesia dalam satu apartemen. Ataupun dengan adanya kebebasan yang diberikan. Maka hubungan antar pekerja semakin akrab terbina. Mula-mula dengan alasan menghilangkan kepenatan sehabis bekerja. Disamping membunuh rasa sepi, rindu baik akan suami / istri, anak dan keluarga serta rindu akan kampung halaman. Para pekerja kemudian berusaha mencari hiburan. Dan di Malaysia hiburan yang paling digemari adalah hiburan Karaoke. Maka tidaklah heran apabila kita masih menjumpai wanita-wanita pekerja dari Indonesia masih bersama teman laki-lakinya sekalipun waktu telah menunjukan jam 03.00 pagi. Para Srikandi Indonesia yang biasanya terkungkung dengan norma-norma Agama, kesusilaan, kesetiaan. Ataupun memperoleh pengawasan dari tetangga kanan kiri dimana mereka tinggal akan segala sepak terjangnya. Kini begitu bebas melakukan. Sadar ataupun tak sadar kelakuan para Srikandi semakin lama semakin jauh terseret kedalam pergaulan bebas.
Pergaulan bebas yang mula-mula dilakukan dengan laki-laki Indonesia kemudian bertambah luas hubungannya dan semakin profisional. Para Srikandi tidak segan melakukan dengan laki-laki dari bangsa lain sepanjang ada uang maka abang akan saya sayang. Tidak perduli bangsa Melayu, India ataupun dari bangsa Cina, yang penting uang. Uang adalah segalanya. Bahkan para Srikandi rela menjadi istri simpanan. Negara Malaysia tidak melarang adanya Poligami, dengan mencari “ penghulu pasar “, “ Nikah batin “ pun dilakukan. Maka tidaklah heran jika mendapati Srikandi Indonesia melahirkan anak yang berkulit layaknya kulit orang dari India atau bermata sipit karena ayah biologisnya keturunan Cina. Dan pernikahan batin sedemikian dilakukan berulang-ulang dalam kurun waktu dan dengan laki-laki yang berbeda, sehingga banyak diantara mereka semasa tinggal di Malaysia, telah melakukan tidak kurang dari tiga atau empat kali pernikahan. Tokh suami, anak dan keluarganya tidak ada yang tahu atas perbuatan yang dilakukannya. Dan akibatnya para pekerja Kilang { Pabrik } yang memperoleh cap sebagai wanita “ gampangan “. Coba saja bertanya kepada salah satu warga Malaysia tentang tingkah laku para srikandi kita yang bekerja dikilang-kilang.

Meskipun demikian, walau belum pernah melakukan penelitian. Setidak-tidaknya Penulis masih berkeyakinan jika masih lebih banyak lagi srikandi-srikandi kita yang bekerja secara normal didalam mengeruk pundi-pundi ringgit demi masa depannya dengan tak lupa mengindahkan Norma-norma Agama, kesusilaan dan kesetiaan terhadap pasangannya yang berada di Indonesia. Namun bukan berarti sepak terjang para Srikandi Indonesia yang terlibat dalam pergaulan bebas dapat toiler. Pemerintah harus sesegera mungkin melakukan pembenahan disana-sini. Dengan melakukan intervensi kepada PJTKI { Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia } sewaktu membuat MOU [ Master of Understanding }. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Tenaga Kerja memaksa agar didalam MOU dicantumkan pasal-pasal yang mengatur tempat tinggal dan batasan waktu bagi para pekerja untuk keluar masuk dari apartemen sewaktu mereka cuti { libur } dan tak lupa dicantumkan pula sangksi apabila aturan tersebut dilanggar. Dimana pengawasannya bisa diserahkan kepada perusahan yang merekut ataupun PJTKI atau dilakukan oleh pegawai baik dari Kedubes Indonesia di Malaysia ataupun dari Departemen Tenaga kerja Indonesia sendiri. Sehingga diharapkan nantinya jika pengiriman tenaga kerja baru bukanlah berarti melakukan pengiriman “ sayur baru “ bagi warga Malaysia. Kata yang menyakitkan bukan. Namun itu bukan salah warga Malaysia penulis yakin melainkan itu salah kita sendiri.
Disamping memberikan pembekalan agama, cinta akan tanah air, sangatlah mutlak haruslah dilakukan sebelum para tenaga kerja berangkat menuju Negara tujuan. Juga secara berkala, Departemen Tenaga Kerja bekerja sama dengan Departemen Agama ataupun atau kedutaan besar Indonesia di Malaysia memberikan penyuluhan dan bimbingan Agama kepada seluruh pekerja.


Sebab kalau sampai terlambat dilakukan atau malah tidak dilakukan sama sekali. Maka akan berapa banyak kita merusak gadis dan wanita lugu yang nota bene adalah harta karun kita. Dan berapa banyak anak haram yang akan dilahirkan di Indonesia. Bukankah kebanyakan Srikandi-srikandi yang bekerja dikilang-kilang [ Sebutan pabrik di Malaysia } berasal dari desa-desa atau kota-kota kecil di Indonesia. Dimana biasanya Srikandi-srikandi ini hidup dalam taraf kehidupan ekonomi yang tidak begitu baik. Dengan kebebasan dan uang yang cukup banyak dalam waktu yang relatif cepat didapat. Mereka mengalami apa yang disebut dengan istilah “ Shock Culture “. Seakan kuda lepas dari pingitan, para Srikandi seolah baru pertama kali menikmati indahnya kehidupan. Seakan dunia telah berada didalam genggaman. Wajah-wajah lugu telah hilang dan berganti dengan modern dengan rambut yang dicat dan Hanphone sebagai tentengan. Mereka lupa diri, lupa kehidupan lain dilain belahan dunia sedang menanti mereka, suami dan anak-anaknya. Dan untuk itu sudah saatnya mereka disadarkan jika perbuatan mereka keliru. Sudah saatnya mereka dibangunkan dari mimpi hitamnya. Mengingat dipundaknyalah terletak nama baik bangsa dan Negara khususnya nama baik wanita Indonesia. Sehingga selain bisa mengangkat taraf ekonomi baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi keluarganya. Mereka dapat berguna berguna bagi nusa dan bangsa mengingat jasanya bagi negaranya karena memberikan kontribusi bagi penambahan devisa juga dikarenakan telah mengurangi beban negara, Pengangguran.


Penulis adalah seorang Pengacara yang tinggal di Jogja.
Namun saat ini sedang tinggal di Malaysia.





Monday, January 19, 2009

Name : Danang Wahyu Widayat, SH.
Email Address : alf_ismy_elf@yahoo.com
Blog : Danangwwidayat.blogspot.com
Contact Person : 014926184
Home address : 1175 Jalan BBN 6/2f, Taman Desa Cempaka 71800,
Nilai Negeri Sembilan

Professional Experience :
More than 100 cases have been handeled and more than 90 % won. Big cases have been, such as :
1. Represent Internationan labour Case in Sragen, Jawa Tengah Indonesia. Represent an Indonesia Labour againt Arabic an employer.
2. Represent client in Regional election, Klaten, jawa Tengah. On Administration Court Semarang, Jawa Tengah.
3. Represent Client againt Bupati Jawa Tengah on Private Cases.

4. Represent client from Gapeknas Salatiga. Againt Kapala Departemen Pekerjaan Umum Salatiga.

5. Indonesia Election in Private cases in Jakarta, election on 1999.